
Lahirnya Kopdit Handayani Bajawa merupakan kesadaran akan keprihatinan diantara para Pegawai Negeri Sipil(PNS) pada Kantor Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ngada yang kala itu gajinya sangat minim dibandingkan dengan kebutuhan hidup yang sangat besar antara lain biaya pendidikan anak, biaya kesehatan, biaya perumahan.Kondisi ini menjadi peluang bagi para rentenir (pelepas uang ) yang senantiasa menawarkan diri sebagai sang penyelamat. Pada tanggal 30 Agustus 1986 melalui rapat para guru dan karyawan dicetuskan ide untuk menggalang solidaritas antar karyawan dan guru melalui wadah KST (Kelompok Studi Tabungan). Seiring dengan perjalanan waktu benih KST bertunas segar dan berkembang kian membesar sehingga dialihkan statusnya dari KST menjadi Credit Union atau Koperasi Kredit
Keanggotaan awal berjumlah 69 orang dengan modal awal Rp.2.361.500,-Tujuan pembentukan KST Handayani untuk membantu anggota dalam membiayai pendidikan anak,membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga,kesehatan dan lain lain.Kata Handayani berasal dari moto TUT WURI HANDAYANI yang berarti dari belakang mendorong anggota untuk berkembang meningkatkan penghasilannya.Dari tahun ke tahun perkembangan KST Handayani banyak membantu anggotanya dalam mengatasi kesulitan dibidang pendidikan anaknya, kesehatan keluarganya.Kopdit Handayani memperoleh badan hukum dari pemerintah tanggal 10 Januari 1999 nomor: 01/BH/KDK.24.9/I/1999. Kopdit ini aktif mengikuti pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan oleh BK3D Ende Ngada dan studi banding lintas puskopdit dan kopdit primer sehingga mendorong pengembangan usaha dan produk pelayanan.
Kopdit Handayani sungguh apresiatif dengan orang miskin. Banyak orang miskin terutama kaum ibu tidak mendapat akses pada lembaga keuangan formal yang mengakibatkan mereka sangat rentan untuk hidup sehat dan sejahtera. Ada banyak kaum ibu disekitarnya harus berobat ke dukun (tabib) karena kesulitan biaya yang sangat mahal jika mereka berobat ke rumah saki atau polindes kota.
Kenyataan ini menginspirasi para pengurus dan anggota untuk melebarkan sayapnya kepada
orang-orang miskin dengan pola pemberdayaan yang di mulai pada Nopember 2005.
Masyarakat dikunpulkan berkelomok sesuai jangkauan lokasi dan
usaha yang sejenis lalu mereka menabung sehari Rp.1000 pada Ketua Kelompok
dan dalam seminggu Petugas Lapangan Kopdit datang menjemput untuk dibukukan
pada buku simpanan sesuai tata aturan Kopdit. Awalnya mereka berat untuk
menabung karena untuk makan 3 kali sehari saja sulit namun lama-kelamaan
ternyata teknik ini sangat membantu. Program ini sekaligus mengurangi gaya
hidup konsumerisme. Kopdit ini juga membuka diversifikasi produk simpanan
saham dan non saham. Simpanan non saham seperti Sibuhar (sejenis tabungan),Sisuka (sejenis deposito), Sibudi
(simpanan pendidikan anak) dan Simapan (simpanan investasi masa depan). Data per Desember 2007, kopdit ini mempunyai anggota 1,586 orang dan asset Rp.4 miliard.
| Pengawas (Supervisor) | |||
| Ketua (Chief)) | Dominikus Soro | ||
| Wakil Ketua (Deputy) | Yohanes Lako | ||
| Anggota | Getrudis Bupu | ||
| Pengurus (Official member) | |||
| Ketua (Chief) | Petrus Canisius Damy | ||
| Wakil Ketua (Deputy) | Nikolaus Egho | ||
| Sekretaris | Thomas Ola | ||
| Bendahara (Treasurer) | Maria Kesa | ||
| Anggota | Farianus Bhai | ||
| MANAJEMEN | |||
| Menejer | Wilhelmus Wai Wodo | ||
| Akunting | Elisabeth Wawo | ||
| Adum | Theresia Andu | ||
| ENDOR UR TASOIN | |||
| Pilipus Benisius Goa | |||
| Kasir | Maria Liberata Due | ||
| Teller | Emirensiana Maria Ere | ||
| Perkreditan (Credit control) | Agustinus Naru |